BERITAINFO.ID||KENDARI – Di tengah sorotan tajam terhadap kondisi kabel dan tiang jaringan yang semrawut di berbagai sudut Kota Kendari, pihak Telkom meminta masyarakat aktif melaporkan temuan kabel menjuntai maupun tiang yang dianggap membahayakan. Namun, pernyataan itu justru memunculkan pertanyaan baru: mengapa persoalan yang telah lama terlihat di ruang publik masih harus menunggu laporan warga untuk ditangani?
Tim Leader Maentence Jaringan Telkom Kendari, Reza, menegaskan tidak semua kabel yang terlihat semrawut merupakan milik Telkom. Menurutnya, banyak operator telekomunikasi yang menggunakan jalur jaringan yang sama sehingga perlu dilakukan validasi sebelum dilakukan tindakan.
“Kalau memang itu jaringan Telkom dan terbukti mengganggu masyarakat, kami langsung tindak lanjuti. Untuk perbaikan tiang miring maupun kabel yang menjuntai, kami punya mekanisme penanganan,” ujar Reza, Rabu (3/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa sejumlah tiang yang terlihat miring sebenarnya berfungsi sebagai penyangga agar jaringan tidak roboh akibat beban kabel yang cukup besar. Reza juga mengklaim setiap laporan masyarakat yang masuk melalui GraPARI maupun call center akan ditindaklanjuti maksimal dalam waktu 3×24 jam.
Namun pernyataan tersebut datang saat keresahan publik terhadap kondisi utilitas kota terus membesar. Di sejumlah ruas jalan, kabel telekomunikasi terlihat kusut, bergelantungan rendah, bahkan melintas dekat atap rumah warga dan badan jalan yang setiap hari dilalui kendaraan.
Kondisi ini sebelumnya telah mendapat sorotan keras dari aktivis hukum, Muchzart Zaing, S.H. Ia menilai kesemrawutan kabel di Kendari sudah melampaui persoalan estetika kota dan kini menjadi ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat.
“Ini bukan sekadar kabel semrawut. Ini sudah menyangkut keselamatan masyarakat. Banyak kabel menjuntai rendah, tiang miring, dan tumpukan kabel yang dibiarkan tanpa penanganan serius. Jangan sampai menunggu korban baru bertindak,” tegas Muchzart.
Menurutnya, salah satu titik yang perlu segera mendapat perhatian berada di kawasan Jalan Anggoeya, tepatnya di depan Puskesmas Anggoeya. Di lokasi tersebut terdapat tiang jaringan yang terlihat miring dan masih menopang sejumlah kabel telekomunikasi.
Muchzart mengingatkan bahwa kabel yang melintang rendah berpotensi tersangkut kendaraan besar seperti truk kontainer. Jika sampai putus, dampaknya bukan hanya gangguan layanan komunikasi, tetapi juga bisa memicu korsleting, gangguan kelistrikan, hingga membahayakan warga yang berada di sekitar lokasi.
Ia juga mempertanyakan pengawasan dan penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam pemasangan maupun pemeliharaan jaringan utilitas di Kota Kendari.
“Banyak tiang yang sudah miring tetapi tetap dipakai menahan tambahan kabel baru. Ini harus menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan publik,” katanya.
Di sisi lain, Telkom menyebut telah melakukan penataan jaringan sejalan dengan program penertiban utilitas yang didorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Namun perusahaan mengakui proses tersebut belum sepenuhnya rampung.
Pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredakan kritik masyarakat. Warga menilai persoalan kabel semrawut yang telah berlangsung bertahun-tahun tidak cukup diselesaikan dengan mekanisme pelaporan semata. Publik mempertanyakan efektivitas pengawasan rutin yang seharusnya dilakukan oleh penyedia layanan tanpa harus menunggu aduan dari masyarakat.
Desakan kini mengarah kepada seluruh operator telekomunikasi, PLN, pemerintah daerah, serta instansi terkait agar melakukan audit dan penataan menyeluruh terhadap jaringan utilitas di Kota Kendari. Sebab, semakin banyak kabel yang menggantung tanpa pengawasan, semakin besar pula risiko kecelakaan yang mengintai pengguna jalan.
Di tengah pesatnya pembangunan kota, masyarakat berharap keselamatan publik tidak dikalahkan oleh tumpukan kabel yang dibiarkan semrawut. Sebab ketika sebuah bahaya sudah terlihat jelas di depan mata, pertanyaan yang muncul bukan lagi siapa pemilik kabel itu, melainkan siapa yang akan bertanggung jawab jika suatu hari kabel tersebut memakan korban.
Laporan : Beritainfo.id












